Selasa, 26 Februari 2013

PROFIL TEATER OBENG


Salah satu organisasi di kampus Universitas Muria Kudus yang berawal dari rasa ingin berbagi informasi, belajar bersama dan menyalurkan hobi, minat serta bakat mahasiswa teknik pada khususnya dan mahasiswa UMK pada umumnya. Selain itu, didorong dengan rasa gelisah yang begitu kuat karena ingin mempunyai komunitas khusus civitas akademika fakultas teknik yang bergerak dibidang kesenian dan olahraga seperti yang dimiliki  oleh fakultas lainnya di UMK.
Ide dicetuskannya komunitas obeng bertepatan pada tanggal 18 Juli 2010 oleh Hadi Purnomo Cs yang pada waktu itu menjabat sebagai presiden BEM Fakultas tehnik periode 2010/ 2011. Dengan kedudukan yang dimilikinya, tentu saja hal ini mempermudah dalam perekrutan anggota baru.
Penamaan “OBENG” dimaksudkan sebagai simbol karakter mahasiswa fakultas teknik yang berfungsi sebagai alat untuk memperbaiki. Dengan penamaan tersebut diharapkan mahasiswa yang bergabung bisa memperbaiki mental untuk terus berkarya , berproses menjadi lebih baik serta belajar bersama untuk saling berbagi dan bermasyarakat.
Di awal perjalanannya, memang belum benar-benar terbentuk organisasi secara struktural. Namun dalam prosesnya, obeng telah meraih pencapaian pertamanya dibidang olahraga yaitu menjadi juara 1dalam lomba Futsall tingkat Jawa Tengah tahun 2010.
Setelah itu, mulai dibentuklah struktur organisasi obeng yang diketuai oleh Ulin Nuha, mahasiswa dari Fakultas Mesin UMK periode 2011/ 2012. Dengan harapan ingin memperdayakan mahasiswa melalui kajian keilmuan dan minat bakat ( Teater , Keilmuan , Olah Raga , Musik , multimedia, futsall, dll ), proses pun mulai dilaksanakan secara rutin.
Bulan September 2012 Oki Harisandi , mahasiswa FT Teknik Mesin UMK terpilih menjadi ketua obeng yang kedua. Dalam kepemimpinannya, diadakanlah Workshop Obeng pertama pada tanggal 6-8 Februari 2012 di Villa PPRK Muria Kudus sebagai ajang pembekalan materi. Yang kemudian dilanjutkan dengan pentas perdana Obeng yang sekaligus sebagai ikrar perdana Obeng dengan mengangkat naskah yang berjudul "Sang Mandor" karya Rahman Arge di Auditorium UMK pada tanggal 04 April 2012 yang disutradarai oleh Dito Morra, yang notabene anggota dari Keluarga Segitiga Teater Kudus. Dipementasan tersebut, obeng juga unjuk gigi dalam memainkan perkusi yang ternyata mampu menghipnotis para audiens.
Selanjutnya, di bulan Mei 2012 Ahmad Ainun Nadhif, mahasiswa FT Teknik Informatika dipercayai untuk menjadi ketua Obeng yang ketiga. Dalam prosesnya, Obeng mencoba menggarap naskah “DOR” karya Putu Wijaya yang disutradarai oleh Wisnu Dudu Dewo. 

Bulan Desember 2012  , 

Geliat Kesenian Kudus Kian Bergairah


  TJ Jelajah - Kudus, Kota Kretek Kudus yang beberapa tahun terakhir ini pernah disunyikan oleh aktifitas kesenian, kin kembali bangkit dan bergairah dengan berbagai kegiatan kesenian baik teater maupun seni rupa serta kesenian lainnya. Hal ini terbukti dalam satu malam, Sabtu (29/12) kemarin ada dua even kesenian sekaligus. Pertama yakni pertunjukkan teater Obeng Universitas Muria Kudus (UMK) dengannaskah Dor karya Putu Wijaya di Aula Kampus UMK.
Dengan besutan Sutradara Wisnu DD, teater Obeng mencoba membaca Putu Wijaya. Mekipun agak kedodoran, teater Obengberhasil menyajikan Dor dengan apik dan tuntas. Hanya saja dalam produksi ke dua ini, Obeng masih belum mampu menata kompleksitas persoalan yang ada dalam naskah, sehingga masih banya apresian yang melontarkan masukan dan kritik pedas dalam diskusi apresiasi usai pertunjukkan.

Menurut Sutradara Produksi kedua, Wisnu DD, menyatakan membaca Putu Wijaya dalam naskah yang ditulis sekitar tahun 1979 dan disajikan pertama kali oleh teater Mandiri sekitar tahun 1981 tersebut tidaklah mudah. Pasalnya, naskah-naskah Putu sangat membutuhkan kejelian pengamatan dan penelaahan, dan itu, menurut Wisnu tidak cukup dengan waktu yang relatif pendek.

Denga waktu dua bulan, pada Produksi II kali ini, Obeng mencoba mengeksplorasi salah satu karya tersebut dengan segala kemampuan yang ada. Ketika baru saja memasuki ruang pertunjukkan, audience sudah disuguhi seting panggung ruang persidangan Hakim yang penuh dengan koran bekas sebagai backgroundnya. Selain itu, banyak pernik-pernik yang memantulkan cahaya lampu sehingga tata lampu (lighting) menjadi tidak fokus.

“Tidak mudah memang. Tetapi proses kreatif adalah guru paling baik untuk menjadikan kita lebih baik, atau mungkin malah menjadikan kita lebih buruk dari yang kemarin” ungkap sang Sutradara, Wisnu DD di hadapan para apresian.

Apalagi, lanjut Wisnu, Dalam perjalanan keputusan, terjadilah sebuah proses pendekatan kepada hakim agar Ali bisa dibebaskan, baik secara halus maupun terang - terangan. Sang hakim harus tegas dalam memutuskan, membebaskan ataukah menjatuhi hukuman. Muncul lah tokoh Gubernur, Ibu Gubernur, Yulia, Inem, Tamu - tamu, Saksi - saksi, Jaksa, Pembela, yang semuanya membawa kebenarannya sendiri - sendiri.

Meski ragu memberikan realitas tersebut, Obeng cukup mampu membius audiencenya. Keraguan tersebut sangat diakui oleh mereka. Sebab, dengan waktu proses hanya  dua bulan, mereka dipaksa untuk menampilkan sebuah suguhan pementasan yang apik. Mereka juga menyadari bahwa kondisi - kondisi tersebut akan semakin nyata terjadi jika mereka tidak membentengi dengan spirit yang mumpuni. Tetapi Obeng akan terus menggeliat untuk sekedar membongkar kebekuan potensi pribadi maupun lingkungan kampus UMK terutama dalam hal kesenian khususnya teater.

Even Kedua dalam waktu bersamaan adalah Pameran Seni Rupa yang bertajuk “Art of Choco” di gedung eks  SD 3 Rendeng, Jalan Mayor Kusmanto Rendeng Kudus. Acara tersebut juga sekaligus peresmian berdirinya komunitas Komunitas Seni Tiga Rasa sebagai Komunitas baru yang bergerak di dunia seni rupa berdasar pada kearifan.

Meski terkesan agak “suwung”, kegiatan ini cukup mewarnai geliat kesenian di Kabupaten Kudus. Apalagi, pameran tersebut merupakan agenda pertama bagi Komunitas Seni yang baru saja dibentuk.

“Ini merupakan kegiatan pertama yang dilakukan oleh Komunitas ini, Dengan terselemnggaranya pameran ini, sudah merupakan sesuatu yang ;uar bisa bagi kami yang baru lahir” ungkap Ketua penyelenggara, Inyoer.

Pameran Art of Choco yang dibuka oleh pengasuh Rumah Singgah KebudayaaSuraukami, Guspar Wong tersebut, cukup komplit karya-karyanya. Selain pameran lukis, dilengkapi pula dengan karya patung, digital printing dibarengi dengan lukis mural oleh Krembis N Friends serta body painting oleh Tommy n’friends.

Acara yang akan dipungkasi 6 Januari 2013 tersebut menjadi semakin hingar ketika demeriahkan oleh musik akustik Glen PP, Suraukustik, dilanjutkan pembacaan puisi  Indonesiaku oleh Lurah Suraukami, Eko Gondrong. Kemudian lagu Doa oleh pengasuh sanggar seni Gaperto Mlonggo-Jepara, Didid Endro S, dan pembacaan puisi oleh tamu spesial penyair dan aktifis Komham wanita dari Aceh, Zubaidah Djohar. *** (TJ-dd)

Ruang Luas Berkreasi di Panggung Seni


 Dinamika perkembngan teater kampus di Universitas Muria Kudus (UMK) mendapat respon positif dari pihak petinggi universitas. Pembantu Rektor III UMK Hendy Hendro menilai dunia teater sejalan dengan visi kampus yang mengusung jargon cerdas dan santun.
      Universitas kata dia, telah memberikan ruang luas bagi mahasiswa yang hendak engaktualisasikan diri di dunia seni peran itu. “Ini wujud dukungan kampus untuk kemjuan dunia teater mahasiswa di UMK” katanya.
      Dukungan juga berwujud kucuran anggara untuk mahasiswa yang tergabung dalam kelompok teater kampus. Meski tak merinci berapa rupiah dana yang mengalir untuk mahasiswa itu, Hendy mengaku dana puluhan juta rupiah telah dianggarkan untuk kegiatan mahasiswa.
      Dengan kemudahan izin, dukungan penuh, adanya wadah, serta kucuran dana bagi kelompok teater, kata Hendy, diharapkan semakin memacu mahasiswa untuk lebih bersemangat menciptakan karya.
      Pihaknya berharap mahasiswa pelaku seni bisa berpartisipasi dalam ajang seni antar universitas. Salah satu perlombaan di bidang seni yang bisa diikuti mahasiswa yakni Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas).
      Perlombaan pekan seni itu digelar oleh Badan Pembina Mahasiswa Seni Indonesia (BPMSI), setiap dua tahun sekali. “Mahasisw silahkan berkarya di sana. Selain menggali potensi dan mengembangkan kelompoknya melalui teater kampus, tidak ada salahnya mahasiswa ikut perlombaan untuk mengharumkan nama universitas,” jelasnya.
      Dengan semakin banyak mahasiswa yang berkiprah di luar kampus, Hendy berharap semkin banyak mahasiswa lainnya yang mengikuti jejak serupa. “Bukan hanya prestasi berbuah piagam dan hadiah saja, namun juga mendorong mahasiswa lainnya agar juga termotivasi untuk berprestasi,” paparnya.
      Penilaian serupa meluncur dari Pembantu Dekan III Fakultas Teknik (FT), Hera Setiawan. Menurut dia, teater kampus mempunyai manfaat ganda bagi mahasiswa. Aspek kognitif dan afektif dalam diri mahasiswa bisa terasah seimbang jika tekun mendalami seni peran.
       Karena manfaatnya, fakultas Teknik pun tak ketinggalan memberi dukungan manakala sekelompok mahasiswa fakultas itu membidani lahirnya kelompok teater, Obeng. Dilihat dari namanya pun, nama Obeng identik dengan Fakultas Teknik.
       Hera mengatakan, dukungan diberikan dalam bentuk kemudahan izin pementasan. Sokongan dana pun diberikan. Untuk kemudahan birokrasi, Dosen lulusan UGM ini mendorong awak teater fakultas melebur diri pada struktural Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FT.
      “Memang selama ini Teater obeng menggunakan dana mahasiswa sendiri. Tapi jika mereka mengajukan proposal pengajuan dana, maka pihak fakultas akan mmudahkannya, jika telah memenuhi syarat,” katanya.
      Setali tiga uang, Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi (FE) UMK Febra Robiyanto pun tak kalah memberikan dukungan atas terbentuknya kelompok teater di FE. Coin namanya. Agar tetap bertahan, Febra meminta anggota kelompok teater itu menjaga eksistensinya.
      Minat kuat menjadi modal utama untuk menjaga ksistensi. Untuk mendapat kemudahan kucuran dana fakulta, pihaknya meminta awak Teater Coin menjalin komunikasi yang baik dengan pihak fakultas. Dengan begitu, pihak fakultas lebih tahu secara detail keperluan apa yang dibutuhkan mahasiswa.
Sementara itu, tak semua fakultas di UMK melahirkan kelompok teater baru. Hingga kini, mahasiswa di Fakultas Pertanian (FP)  UMK belum tertarik mendirikan kelompok seni peran itu.
      Belum adanya kelompok teater di UMK ini, menurut PD III FP Supari, bukan berrti pihak fakultas tak memberi dukungan. “Ini murni karena belum ada mahasiswa yang berminat ke sana (membentuk kelompok teater). Terlebih jumlah mahasiswa fakultas pertanian memang sedikit,” jelanya.
      Selin itu, tak banyak mahasiswa setempat yang memiliki pengetahuan dasar di bidang kesenian, terutama seni teater. Semua kegiatan mahasiswa menurut dia positif, sekaligus efektif sebagai ajang promosi baik kampus, maupun universitas.
      “Kami antusias jika ada mahasiswa yang aktif, termasuk membentuk kelompok teater eperti mahasiswa lainnya,” katanya.

Sumber : http://linanalumsari.blogspot.com/2012/06/majalah-peka-edisi-x1x.html

Bangun Kreativitas Seni, Obeng Mengadakan Workshop Teater



UMK – Demi membangun pembangunan kreativitas seni anggota baru, Teater Obeng menggelar workshop bertema “Peningkatan Kreativitas Seni dan Karya Mahasiswa dengan Perpaduan Etika dan Kebudayaan” selama tiga hari (7- 9/12) di Balai Desa Margorejo Dawe Kudus.
Tiga pemateri dari Keluarga Segitiga Teater (KESET) Kudus dihadirkan oleh penyelenggara. Mereka adalah M Zaini SPdI, A Zaki Yamani SPdI dan Noorhadi SE.
Zaini menyampaikan materi mengenai keaktoran. Untuk menguasai dan handal dalam bidang keaktoran, menurutnya, seseorang harus mengikuti pelatihan dalam kegiatan teater sehingga ke depan orang bersangkutan dapat menjadi aktor yang baik.
Materi kesutradaraan juga tidak lupa berikan. Zaki Yamani membekali peserta kegiatan dengan materi tata cara menjadi seorang sutradara profesional. Seorang sutradara yang mumpuni  harus mampu mengatur jalannya cerita berikut pembuatan karakter dalam adegan.
Sementara Noorhadi memberi bekal keterampilan pada bidang artistik menyangkut tata cara menggunakan make up, tata panggung, tata lampu, dan semacamnya. “Butuh ketekunan dalam berlatih untuk menguasai skill artistik ini,” ujarnya.
Pererat
Selain untuk pengarahan dan pelatihan dalam bidang seni, kegiatan juga menjadi wahana mempererat hubungan antaranggota baru dengan anggota lama.
“Anggota baru Obeng memiliki minat dan kemampuan yang tinggi, mereka antusias dalam mengikuti setiap kegiatan yang berlangsung secara tertib dan serius,” ujar Ketua Panitia, Geza Satria. Kegiatan juga dinilai sebagai simbol komitmen anggota baru untuk belajar dunia seni dalam wadah Teater Obeng. (Faizal-Portal)

Jumat, 23 November 2012

Putu Wijaya Sang Teroris Mental

Judul Buku :
Putu Wijaya Sang Teroris Mental
Penulis      :
Sigit B Kresna
Penerbit    :
Yayasan Obor Indonesia
Tebal        :
- Hal



Minggu, 21 Oktober 2012

Loyalitas dan Kebersamaan. Dua Point Penting dalam Berorganisasi


Sudah bukan barang baru saat awal-awal perkuliahan khususnya mahasiswa baru berbondong-bondong bersama mengikuti kegiatan kemahasiswaan baik itu sifatnya dibidang Eksekutif, Ilmiah, Keolahragaan, Jurnalistik, Kerohanian ataupun bidang lainnya. Mahasiswa lama (pengurus) yang sangat gencar sekali mencari mahasiswa-mahasiswa baru guna sebagai tali estafet ato era regenerasi demi kelangsungan unit yang dipegangnya mempunyai peran penting sebagai magnet mahasiswa untuk mengikuti kegiatan mereka.
Namun seiring dengan berjalannya waktu ternyata hampir dari permasalahan yang dimiliki oleh semua unit kemahasiswaan adalah Sumber Daya Manusia atau SDM yang lambat laun mulai berkurang. Ibaratnya terjadi seleksi alam, banyak mahasiswa yang tidak aktif, keluar ataupun tidak ada kabarnya sama sekali. Hal tersebut bisa menjadi bomerang pada organisasi tersebut.
Penulis mencoba menganalisis penyebab fenomena diatas sesuai pengalaman pribadi. Organisasi merupakan sarana bagi suatu kelompok individu yang minimal punya suatu kesamaan visi dan misi. Individu-individu dalam organisasi hendaknya mengerti terlebih dahulu dalam memahami visi dan misi bersama. Ada dua point penting yang perlu ditekankan untuk menjaga kestabilan dalam organisasi yaitu “Loyalitas dan Kebersamaan”.
Pertama hal yang diperlukan oleh sebuah organisasi untuk mempertahankan keberadaannya adalah “Loyalitas” dari anggotanya. Loyalitas erat kaitannya dengan kesetiaan. Seorang anggota yang memiliki loyalitas terhadap organisasinya memiliki kesadaran pribadi untuk memanfaatkan semua potensi yang ada dalam dirinya demi kemajuan organisasi. Loyalitas juga akan membuat anggotanya akan mengutamakan kepentingan organisasi diatas kepentingan pribadinya baik itu dari segi waktu ataupun lainnya. Loyalitas setengah-setengah akan membuat anggota memberikan kemampuan setengah pula terhadap organisasi yang ditekuninya.
Pada prakteknya, anggota yang memiliki loyalitas tinggi akan menaati segala bentuk tata tertib yang berlaku, mendukung program kerja dengan mengikutsertakan diri sebagai partisipan aktif atau bahkan hiperaktif artinya dia bisa saja menjadi kreator ide-ide penting untuk membangun organisasi dari dalam. Dia tak akan tinggal diam apabila ada hal-hal yang menurut kacamatanya ada yang tidak beres terhadap organisasi dan orang-orang yang ada didalamnya. Loyalitas anggota memegang peranan krusial dalam eksisnya organisasi. Tata aturan yang sempurna, program kerja yang brilian, tanpa disertai dengan loyalitas para eksekutornya adalah hal yang sia-sia.
Hal yang kedua yang tidak kalah pentingnya adalah kebersamaan. Kebersamaan antara anggota merupakan modal yang sangat penting dalam suatu organisasi. Nilai kebersamaan adalah salah satu nilai luhur universal yang harus ada dalam setiap anggota organisasi, mustahil bagi suatu organisasi untuk dapat mencapai tujuan tanpa adanya nilai kebersamaan setiap individunya. Ada pepatah yang mengatakan ”Berat sama dipikul ringan sama dijinjing” seberat apapun suatu pekerjaan apabila dikerjakan bersama-sama akan terasa ringan. Kebersamaan akan menumbuhkan rasa simpati dan empati yang kedua tersebut mampu meningkatkn kepedulian antar sesama pengurus. Dalam suatu organisasi keberagaman pola pikir, kapabilitas dan perilaku setiap individu dalam organisasi merupakan suatu tantangan dalam mengembangkan nilai kebersamaan. Beda pendapat adalah sah-sah saja dalam berorganisasi, menghargai satu sama lain itu yang lebih penting. Kebersamaan akan membuat pengurus lebih mengerti masing-masing karakter, pengenalan masing-masing karakter akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, hal itu jelasnya akan memberikan pengaruh besar terhadap interaksi yang terjadi.
Dalam Realitanya, pelaksanaan program kerja sebagai bentuk realisasi visi organisasi tidak semua anggota memiliki kesamaan sistem kerja, hal itu berdampak buruk bagi kelangsungan organisasi itu sendiri. Hal ini disebabkan terutama karena anggota yang mengikuti suatu organisasi tidak berniat secara penuh untuk mendedikasikan dirinya untuk kelangsungan organisasi, mereka hanya ingin mengambil manfaat yang mereka anggap berguna bagi mereka. Singkat kata, mereka hanya aktif mengikuti kegiatan yang mereka inginkan. Mereka cenderung bersikap acuh tak acuh dalam mengikutsertakan diri menjalankan kegiatan organisasi yang tidak ada hubungannya dengan tujuan/alasan/keinginan mereka ketika mendaftar menjadi anggota organisasi.
Mengatasi hal tersebut, ada beberapa hal yang harus dijalankan secara kooperatif oleh pengurus organisasi terutama ketua organisasi. Pertama adalah menjamin pengetahuan setiap anggota tentang organisasi secara keseluruhan. Pengetahuan tentang sejarah pendirian, visi, misi, serta program kerja organisasi misalnya. Seperti yang disampaikan pada awal tadi suatu organisasi yang baik adalah kelompok individu yang minimal punya suatu kesamaan visi dan misi. Tanpa adanya kesamaan sulit tentunya akan berjalan apabila tidak ada batasan arahan yang akan dijalankan.
Kedua adalah mengadakan kegiatan-kegiatan sesuai basis organisasi untuk melibatkan anggota secara aktif dalam organisasi bersangkutan. Namun Intensitas waktu dalam berorganisasi memiliki 2 dampak. Bisa positif dan negatife, positif karena akan membuat pengurus semakin merasa dibutuhkan dan juga cenderung berusaha memberikan yang terbaik serta yang paling penting adalah komunikasi akan selalu terjaga. Segi negatifnya adalah kemungkinan besar akan tumbuh bosan/jenuh, hal ini bisa terjadi apabila suasana yang selalu cenderung pembawaan yang serius dan monoton. Peran dari pengurus inti sangat besar dalam inovasi-inovasi baru dalam pembawaaan sebuah kegiatan yang bisa memberi kesan suasana yang baru dan tantangan sesuai dengan keadaan pengurus. Selain itu akan tumbuh juga konflik-konflik kecil biasanya dalam suatu kegiatan, hal-hal seperti ini sering terjadi, hendaknya ketua mampu menempatkan dirinya untuk mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.
Ketiga adalah sikap-sikap positif seperti berjiwa besar, menghargai saran dan kritik yang bersifat membangun dan berjiwa satria, sangat berperan penting pula dalam diri masing-masing anggota untuk mewujudkan loyalitas dan kebersamaan dalam organisasi.
Keempat, organisasi sangat tergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Pengembangan dan perbaikan kualitas SDM akan sangat membantu organisasi dalam mencapai tujuannya. Sebuah organisasi untuk itu harus selalu berusaha menciptakan strategi pengembangan sumber daya manusia yang efektif. Dalam hal ini Bidang Pengembangan Sumber Daya atau biasanya disebut PSDM sangat dominan dalam upayanya meningkatkan SDM. PSDM yang baik akan peka terhadap anggotanya yang dirasa perlu di upgrade demi kebutuhan organisasi kedepannya. Tentunya hal ini tidak hanya dilakukan PSDM seorang, kerjasama antar bidang juga perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kondisi pengurus.
Kelima yang tidak kalah urgent adalah tetap membangun tali silaturahmi terhadap “Alumni”. Pengalaman merupakan guru yang paling berharga. Alumni adalah kakak, jadi tidak ada salahnya menjadikan alumni sebagai media sharing. Pengalaman para alumni akan cukup membantu memberikan masukan demi eksisnya organisasi yang telah membesarkan mereka. Hubungan antara alumni dengan pengurus, tidak terbatas dalam forum-forum resmi melainkan pada hubungan personal yang erat. Alumni dianggap keluarga, kegiatan seperti nonton film bersama, makan bersama, atau hal lainnya yang dilakukan bersama untuk mempererat rasa kekeluargaan di antara mereka. Apalagi saat ini interkasi di dunia maya seperti facebook, twitter, blog ataupun hal yang sejenisnya juga bisa dilakukan.
Semoga tulisan singkat ini mampu memberikan pencerahan bagi diri penulis sendiri khususnya dan kawan-kawan yang menyempatkan waktunya untuk membaca. Harapannya dari pengalaman berorganisasi akan memberi dampak yang baik dan nyata dalam menjalani kehidupan dalam hubungannya dengan masyarakat. Semoga…!.
Salam Kebebasan Berfikir…!!!
Hidup Mahasiswa…!!!

Sumber : Jurnalistechno

Rabu, 17 Oktober 2012

Teater Obeng

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Like Box FB