Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 November 2012
Rabu, 17 Oktober 2012
Senin, 15 Oktober 2012
Joko Anwar
Joko Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 3 Januari 1976; umur 36 tahun) adalah seorang sutradara, penulis skenario, dan produser dari Indonesia
Biografi
Awal Kehidupan
Joko Anwar lahir pada tanggal 3 Januari 1976 di sebuah kawasan perkampungan miskin di Medan, Sumatera Utara di mana tumbuh besar dengan menonton film-film kung fu dan horror. [1] Sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, dia juga telah menulis dan menyutradarai pertunjukan drama. Joko kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung untuk belajar Aerospace Engineering karena orang tuanya tidak sanggup menyekolahkannya ke sekolah film. [1] Setelah lulus kuliah pada tahun 1999, dia kemudian menjadi wartawan di The Jakarta Post sebelum kemudian menjadi seorang kritikus film.Karier
Saat mewawancarai Nia Dinata untuk The Jakarta Post, produser dan sutradara film itu sangat terkesan dengan Joko dan mengajaknya untuk menulis proyek filmnya yang kemudian dikenal dengan judul Arisan! (2003). [1] Film tersebut mendapat sukses yang luar biasa baik secara komersial maupun pujian dari para kritikus dan memenangkan beberapa penghargaan di dalam dan luar negeri termasuk "Film Terbaik" di Festival Film Indonesia pada tahun 2004 and "Best Movie" di MTV Indonesia Movie Awards pada tahun 2004. Joko lalu menyutradarai film pertamanya, sebuah komedi romantis berjudul Janji Joni (Joni's Promise) (2005), yang dia tulis saat dia masih duduk di bangku kuliah pada tahun 1998. Film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Mariana Renata ini merupakan salah satu peraih box office terbesar pada tahun itu dan memenangkan "Best Movie" di MTV Indonesia Movie Awards tahun 2005. SET Foundation yang diketuai oleh pembuat film Garin Nugroho memberikannya penghargaan khusus untuk "cara bercerita yang inovatif' dalam film itu. Janji Joni (Joni's Promise) juga masuk dalam seleksi beberapa festival film internasional bergengsi, antara lain Sydney Film Festival dan Pusan International Film Festival. Film ini juga menghidupkan kembali karier Barry Prima, yang dikenal dunia internasional sebagai seorang bintang laga film cult yang merupakan bintang film favorit Joko sewaktu kecil. [1]Pada tahun 2007, Joko Anwar menulis dan menyutradarai Kala, yang disebut-sebut sebagai film noir pertama dari Indonesia yang mendapat pujian dari para kritikus internasional. Majalah film terkemuka dari Inggris, Sight & Sound, memilih film ini sebagai salah satu film terbaik di tahun itu dan juga menamakan Joko sebagai "salah satu sutradara tercerdas di Asia". [2] Film ini terpilih dalam seleksi lebih dari 30 film festival internasional dan memenangkan beberapa penghargaan, termasuk di antaranya sebuah Jury Prize di New York Asian Film Festival. [3] The Hollywood Reporter menyebut Kala sebagai "sebuah "film noir" cerdas yang mengingatkan penonton pada film "M" karya Fritz Lang" [4] Film ini juga telah disandingkan dengan karya-karya Alex Proyas dan Kiyoshi Kurosawa. [5]
Selain menulis skenario untuk disutradarainya sendiri, Joko Anwar juga menulis skenario untuk sutradara lain, termasuk film komedi Quickie Express yang memenangkan "Best Film" di Jakarta International Film Festival pada tahun 2008 dan Jakarta Undercover. Dua film tersebut juga sukses secara komersial. Joko juga menulis skenario film Fiksi yang mendapat pujian dari para kritikus internasional dan memenangkan banyak penghargaan, antara lain "Film Terbaik" dan "Skenario Terbaik" di Festival Film Indonesia 2008.
Film Joko Anwar selanjutnya adalah Pintu Terlarang yang dirilis pada tahun 2009. Film ini adalah sebuah film thriller psikologis yang juga mendapat pujian dari para kritikus. Kritikus Richard Corliss dari majalah TIME menulis, "Cerdas sekaligus sakit, film ini bisa jadi kartu panggilan buat Joko Anwar sebagai sutradara kelas dunia, kalau saja para petinggi Hollywood menginginkan sesuatu yang lain dari produk mereka yang itu-itu saja". Dia juga menyebutkan bahwa film ini merupakan "contoh sejauh apa film bisa dibuat tapi jarang mencoba". [6] Maggie Lee dari The Hollywood Reporter menulis bahwa film Joko Anwar ini akan "membuat Hitchcock dan Almodovar bangga", dan menyebutkan bahwa "Joko Anwar memberikan film horor-suspens yang menakutkan ini dengan serangkaian penghargaan kepada para pembuat film terkemuka secara menakjubkan". [7] Film ini juga telah masuk dalam seleksi beberapa festival film internasional terkemuka, termasuk di antaranya International Film Festival Rotterdam, New York Asian Film Festival, dan Dead by Dawn. Pintu Terlarang juga memenangkan penghargaan tertinggi sebagai film terbaik di Puchon International Fantastic Film Festival 2009.[8]
Filmografi
- Biola Tak Berdawai (2003) (asisten sutradara 2)
- Arisan! (2003) (penulis)
- Janji Joni a.k.a. "Joni's Promise (Judul Inggris) (2005) (penulis/sutradara)
- Jakarta Undercover (2007) (penulis)
- Kala (2007) (penulis/sutradara)
- Quickie Express (2007) (penulis)
- fiksi. (2008) (penulis)
- Tarzan ke Kota (2008) (pengisi suara)
- Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) (pemeran)
- Pintu Terlarang (The Forbidden Door) (Judul Inggris) (2009) (penulis/sutradara)
- Rumah Dara (2009) (bintang tamu)
- Meraih Mimpi (2009) (pengisi suara)
- Madame X (2010) (pemeran)
- Modus Anomali (2012) (penulis/sutradara)
Pendidikan
- SMA Negeri 1 Medan (1993)
- Wheeling Park High School, West Virginia, US (1994)
- Institut Teknologi Bandung, Teknik Penerbangan (1999)
Referensi
- ^ a b c d Profil Joko Anwar Profile di The Jakarta Post (2007-)
- ^ Sight & Sound Films of 2007 (2007)
- ^ Twitch.com Report(2008)
- ^ Kala Review at The Hollywood Reporter (2007)
- ^ Twitch Report (2008)
- ^ Asian Film Fireworks for the Fourth (2009)
- ^ The Forbidden Door -- Film Review (2009)
- ^ Variety (2009)
Posted on 03.44
Minggu, 23 September 2012
Teater Mandiri
Teater Mandiri
Teater Mandiri didirikan di Jakarta pada 1971. Kata mandiri berasal dari bahasa Jawa, yang dipopulerkan oleh Professor Djojodigoena dalam kuliah sosiologi di Pagelaran, Yogyakarta, pada tahun 60-an. Artinya orang yang sanggup berdiri sendiri, namun juga bisa bekerjasama dengan orang lain. Kata itu nampak sangat dibutuhkan dalam pembangunan kepribadian/jatidiri bangsa,di era lepas dari penjajahan phisik namun masih digondel banyak hambatan secara mentalitas..Mula-mula Teater Mandiri membuat pertunjukan untuk televisi (Orang-Orang Mandiri, Apa Boleh Buat, Tidak, Kasak-Kusuk, Aduh). Aduh dan Kasak-Kusuk walaupun sudah direkam tetapi tidak disiarkan karena situasi politik saat itu. Selanjutnya dengan lakon ADUH, pada 1974 Teater Mandiri mulai main di TIM. Sejak itu Teater Mandiri setiap tahun muncul di TIM dan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Naskah yang pernah dipentaskan: Anu, Lho, Entah, Nol, Blong, Hum-Pim-Pah, Awas, Dor, Edan, Aum, Gerr, Los, Tai, Aib, Yel, Bor, Ngeh, Wah, War, Luka, Dar-Der-Dor, Zoom, Jangan Menangis Indonesia, Zetan, Zero, Cipoa) dll.
Semua naskah itu ditulis dan disutradarai oleh Putu Wijaya. Hanya satu kali teater Mandiri mmentaskan naskah lain, yakni The Coffin Is Too Big for The Hole karya Kuo Pao Kun (Singapura) untuk Festival Asia di Tokyo pada tahun 2000. Alasan Putu hanya memainkan naskahnya sendiri, adalah karena dia tidak hanya ingin menyutradarai pertunjukan tetapi juga menghasilkan naskah – sesuatu yang memang sedang diupayakan dalam kehidupan teater modern di Indonesia.
Naskah-naskah Teater Mandiri memang memiliki sesuatu yang khusus. Judulnya hanya satu kata. Karena dalam kata-kata seruan yang umumnya terdiri dari satu suku kata seperti wah, lho, dor dan sebagainya, tersimpan banyak rasa dan pengertian. Ambuitas kata-kata itu menimbulkan kelucuan, keanehann tetapi juga kedalaman bagi yang suka berpikir.
Tokoh-tokohnya rata-rata tidak bernama, bahkan tidak jelas latar belakangnya, sehingga hanya mirip seperti ide sana. Ini untuk mengantisipasi kemajemukan di In donesia yang meliputi banyak hal. Perbedaan bahasa, idiologi, agama, standar sosial, pendidikan dan sebagainya. Dengan membuat karakter seperti tokoh dongeng, lakon jadi netral, bisa diadaptasikan ke mana saja. Memang resikonya, lakon jadi tidak eksklusif.
Pertunjukannya Teater Mandiri cenderung menjadi seperti esei visual. Nyaris teater seni rupa. Jenis pertunjukan ini pernah sangat sukses waktu pertunjukan LHO di Teater Arena TIM. Tetapi dua pertunjukan visual yang tanpa naskah berikutnya (ENTAH dan NOL) tidaki diminati penonton, sehingga Teater Mandiri kembali kepada kata. Namun sejak 1991, karena menjadi utusan Indonesia di dalam KIAS , bermain di 4 kota Amerika yang tidak paham bahasa Indonesia dan Mandiri sendiri tak mampu memainkan lakon dalam bahasa Inggris, Teater Mandiri dengan pertunjukan Yel kembali pada elemen visual, sampai sekarang.
Biasanya, karena memang struktur naskahnya, sekali masuk pentas, pemain Teater Mandiri hampir tidak keluar lagi. Ini terjadi (sejarahnya) untuk menghindarkan pemain yang kebanyakan bukan aktor kehilangan konsentrasi dan ngeloyor main-main kie tempat lain. Jadi pertunjukan Teater Mandiri memang seperti sebuah peperangan. Cepat, keras dan padat. Paling banter sekitar 90 menit.
Sebagai kelompok, Teater Mandiri bukan sebuah organisasi tetapi adalah peguyuban. Tempat berlatih, bertemu dan mengembangkan diri. Bergabung dengan Teater Mandiri tak hanya untuk menjadi pemain teater, tetapi juga mengembangkan jati diri untuk memperoleh kemandirian. Egy Massadiah, salah seorang anggota Teater Mandiri kini sudah menjadi pengusaha muda yang sukses. Ia mengaku di dalam mengatur taktik dan strategi di dalam binis, ia mempraktekkan motto dan kiat kerja yang diopelajarinya waktu masih aktig di Teater mandiri.
Teater Mandiri memiliki 2 acuan dalam bekerja.
Pertama : “Bertolak Dari Yang Ada”. Maknanya adalah untuk mengajak anggotanya belajar untuk menerima, menghayati apa yang ada dan kemudian memanfaatkannya, mengotimalkannya untuk mencapai yang dikehendaki. Dengan dasar ini tak ada yang tak dapat menghentikan proses. Semua kelemahan diberdayakan menjadi kekuatan. Proses menjadi sangat penting, lebih penting dari hasil. Para pendukung diajak belajar bekerja gotong-royong sebagai sebuah tim yang kompak. Sebagaimana juga kehidupan, produk tidak pernah selesai, selalu berkembang dan tumbuh.
Kedua: “Teror Mental”. Teror mental adalah kegoncangan pada jiwa yang membangkitkan seseorang berpikir kembali, sehingga waspada. Bagi Teater Mandiri, tontonan tidak semata-mata bertujuan untuk menghibur. Bahwa tontonan memiliki fungsi menghibur memang dimanfaatkan. Tetapi yang hendak dikejar adalah mengguncang batin, sehingga tercipta pengalaman spiritual. Diharapkan baik dalam diri penonton, maupun para pendukung akan bangkit kesadaran baru. Teater yang memiliki berbagai aspek, dikembangkan secara maksimal untuk membentuk jatidiri.
Anggota Teater Mandiri dari berbagai kalangan. Mahasiswa/pelajar, pegawai negeri/karyawan, wiraswata, pengangguran, dosen/guru, bintang film/sinetron, tukang sapu, tukang parkir bahkan juga bekas narapidan, pemulung serta orang yang cacad tubuh.. Hanya sedikit aktor/pemain yang benar-benar pemain mau bergabung, sehingga Teater Mandiri pernah dijuluki people theater oleh seorang sutradara dari Taiwan. Di dalam Teater Mandiri keaktoran yang memerlukan “peran” kadangkala mengganggu, karena, naskah bisa dirombak dan dipreteli serta dialog dibagi-bagi seperti membagi tugas sesuai dengan desa-kala-patra.
Desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada, tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan, asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri, kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah, kami hanya ingin tumbuh, berkembang dan hidup yang wajar, tidak terkekang oleh dogma-dogma yang salah atau kedaluwarsa.
Pada awalnya Teater Mandiri juga seperti teater-teater yang lain, menitikberatkan persembahan pada kata. Cerita dan tokoh-tokoh sangat penting. Konflik pun menjadi utama. Hanya saja bedanya, cerita di dalam Teater Mandiri yang khusus dibuat, adalah semacam karikatur atau dongeng. Penonton tidak diminta percaya pada apa yang terjadi di panggung (empati). Bahkan penonton diyakinkan bahwa apa yang terjadi di panggung adalah kepura-puraan yang diulebih-lebihkan. Yang dipentingkan adalah suasana. Orang banyak atau massa menjadi tokoh berhadapan dengan individu. Sementara individu sendiri adalah juga bagian dari kelompok.
Bagi Teater Mandiri yang penting bukan apa yang terjadi di panggung, tetapi apa yang kemudian terjadi di dalam sanubari penonton. Tontonan – itu istilah Teater Mandiri untuk menamakan penampilannya, adalah semacam anggur/tuak/berem. Akibat-akibat dari apa yang diminum itulah yang lebih penting. Teater mandiri percaya bahwa tontonan adalah sebuah spiritual yang memberikan pengalaman spiritual, baik pada penonton maupun pemain sendiri.
Dialog-dialog Teater Mandiri, blak-blakan, keras, kasar, tetapi selalu lucu. Menghindar dari mencerca/mengejek orang lain, sehingga kritikan-kritikan sosialnya kadangkala tidak jelas. Lebih mengarah pada dan menjadikan dirinya sendiri sebagai bulan-bulanan, sebagai provokasi untuk mengajak semua orang untuk mawas diri. Mungkin itu sebabnya, Teater Mandiri sampai sekarang tidak pernah berhubungan dengan “yang berwajib”
Pada tahun 1975 dalam pertunjukan LHO, tontonan diakhiri dengan mengundang penonton keluar. Lalu para pemain yang telanjang bulat di dalam gerobak sampah, dibuang ke kolam seperti limbah. Sementara di kolam beberapa orang kampung jongkok berak, membicarakan masalah-masalah politik. Untuk itu Gubernur Ali Sadikin marah. Putu pun dipanggik ke Komdak untuk ditanyai.
Ketika ditanya oleh wartawan apa reaksi Putu, Putu hanya menjawab, bahwa seandainya dia Gubernur dia juga akan melakukan persis seperti yang dilakukan oleh Ali Sadikin. Belakangan memang ketahuan bahwa Ali Sadikin sengaja mendahului marah untuk melindungi TIM,. Sudah lama TIM mau dijamah dan diawasi aparat, karena itulah satu-satunya tempat bebas yang tidak kena sensor saat itu.
Teater Mandiri sudah melakukan pertunjukan di Amerika (Wesleyan, CalArt, New York, Seatle), Jepang (Tokyo, Kyoto), Hong-Kong, Singapura, Taipeh, Hamburg, Cairo. Dan pada bulan Juni 2008 akan ke Praha dan Bratislava. Kolaborasi dan workshop selalu diupayakan di tempat kunjungan, sehingga teater menjadi peristiwa tukar pengalaman yang menumbuhkan pengertian. Jadi dalam pertunjukan juga terjadi proses pembelajaran buat para anggota Teater Mandiri sendiri.
Putu Wijaya sendiri sudah pernah menyitradarai pertunjukan di Amerika dan main di LaMaMa New York. Pada tahun 2004 Putu menyutradarai di Beograd. Bulan Juni 2007 diminta LaMaMa untuk menjadi instruktur para sutradara dalam lokakarya di Umbria, Itali. Dari pengalaman perjalanan itu, jelas sekali teater modern Indonesia memiiliki peluang untuk hadir di percaturan teater dunia..
Apa yang dipraktekkan oleh Teater Mandiri — yang sangat memuliakan kearifan lokal (Indonesia) – adalah salah satu langkah kecil untuk membuat sejarah teater dunia memperhitungkan bukan hanya teater tradisi Indonesia tetapi juga teater modern Indonesia yang merupakan kelanjutan dari teater tradisinya. Sejak tahun 90-an, Teater mandiri memang lebih banyak main di mancanegara, meskipun tetap berusaha minimal sekali setahun di Tanah Air.
Anggota Teater Mandiri yang masih aktip sekarang antara lain: Yanto Kribo, Alung Seroja, Ucok Hutagaol, Arswendy Nasution, Fien Hermini, Aguy Sabarwati, Diyas Istana, Bambang Ismantoro, Sukardi Djufri, Agung Anom Wibisana, Kleng Edy Sanjaya, Umbu LP Tanggela, Chandra, Rino, Dr Soegianto, Corin Danuasmara, Cobina Gillitt, Dewi Pramunawati, Putu Wijaya. Para artis yang pernah main di Mandiri: Warkop, Dewi Yull, Dewi Irawan, Rachael Mariam, Butet Kertaredjasa dan Rieke Dyah Pitaloka
Memang anggota Mandiri itu-itu juga. Yanto Kribo, misalnya sudah ikut Mandiri sejak 1974. Dalam pertunjukan War di Taipeh, seorang Professor bertanya, mengapa Mandiri tidak melakukan kaderisasi dan mempergunakan pemain-pemain muda. Putu menjawab: “Pertanyaan Anda seperti mau mengatakan bahwa umur adalah ukuran kekuatan. Orang-orang yang berumur ini jauh lebih kuat sekarang dibandingkan dengan ketika mereka pertama kali ikut saya. Kribo sekarang jauh lebih tangguh dari Kribo 30 tahun lalu! Di samping itu saya memang tidak memaksakan kaderisasi, karena itu tidak tak ada gunanya. Ini orang-orang datang sendiri pada saya dan pergi sendiri kalau mereka tidak butuh. Memang tidak banyak yang tertarik pada teater seperti Teater Mandiri. Kalau nanti benar-benar tidak ada lagi, ya apa boleh buat, saya akan main sendiri.”
Sejak pementasan ZAT pada tahun 1982, Teater Mandiri selalu didampingi Harry Roesly dan DKSB untuk musik. Harry Roesly sangat cocok dengan Putu. Seringkali tidak diperlukan latihan, langusng saja main. Kadang-kadang Harry menganggap gambar-gambar di pentas sebagai partitur dan sebaliknya sering Putu menganggap musik Harry Roesly sebagai naskah. Duo ini berkelanjutan sampai pertunujukan WAR 2004, karena kemdian Harry Roesly mendahului. Sampai sekarang Teater Mandiri belum mendapatkan gantinya.
Satu lagi pendukung setia Teater Mandiri adalah Rudjito. Penata artistik ini selalu berproses selama pertunjukan, sehingga “set” baru rampung sesudah pertunjukan berakhir. Pernah dalam pertunjukan DOR di Teater Arena, 2 hari sebelum pertunjukan, Rujito minta supaya set dibalik. Di dalam hati Putu marah sekali. Sebagai pemain utama yang memainkan peran Hakim, Putu jadi terpaksa membelakangi penonton terus-menerus. Tetapi karena merasa tertantang, Putu menyambut tantangan itu. Nyatanya memang lebih bagus.
Tantangan bagi Teater Mandiri memang buka halangan, tetapi kesempatan. Kendala bukannya menghambat, tetapi justru memberikan inspirasi untuk meloncat lebih tinggi sehingga menghasilkan surprise. Karena itu dalam masa penih kekangan di masa lalu, teater Mandiri tidak pernah merasa kebebasannya dipasung. Di mana ada halangan atau penindasan di situ ada pelung untuk berkelit. Teater Mandiri percaya, di setiap kegagalan selalu bersembumnyi janji asal berani dan mau meraihnya.
Pada 10 Juni Teater Mandiri akan berangkat ke Praha memainkan ZERO. Kemudian akan dilanjutkan dengan pertunjukan di Bratislava. Sebelum itu untuk uji coba, Teater Mandiri akan main di STSI Bandung pada 1 Juni dan GKJ pada 7 Juni.
Posted on 20.41
Putu Wijaya
I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir di Puri Anom Tabanan, Tabanan, Bali, 11 April 1944; umur 68 tahun) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia penulis drama, cerpen, esai, novel dan juga skenario film dan sinetron.
Putu menulis sejak SMP. Tulisan pertamanya sebuah cerita pendek berjudul "Etsa" dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Pertama kali main drama ketika di SMA, memainkan drama sendiri dan menyutradarai dengan kelompok yang didirikannya sendiri di Yogyakarta. Ikut Bengkel Teater 1967-1969. Kemudian bergabung dengan Teater Kecil di Jakarta. Sempat main satu kali dalam pementasan Teater Populer. Selanjutnya dengan Teater Mandiri yang didirikan pada tahun 1971, dengan konsep "Bertolak dari Yang Ada.
Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri, beberapa diantaranya yaitu mementaskan naskah Gerr (Geez), dan Aum (Roar) di Madison, Connecticut dan di LaMaMa, New York City, dan pada tahun 1991 membawa Teater Mandiri dengan pertunjukkan Yel keliling Amerika. . Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.
Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali. Sejumlah karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, Rusia, Perancis, Jepang, Arab dan Thai.
Riwayat
Putu Wijaya adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak dan ibunya bernama Mekel Ermawati. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.Putu menulis sejak SMP. Tulisan pertamanya sebuah cerita pendek berjudul "Etsa" dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Pertama kali main drama ketika di SMA, memainkan drama sendiri dan menyutradarai dengan kelompok yang didirikannya sendiri di Yogyakarta. Ikut Bengkel Teater 1967-1969. Kemudian bergabung dengan Teater Kecil di Jakarta. Sempat main satu kali dalam pementasan Teater Populer. Selanjutnya dengan Teater Mandiri yang didirikan pada tahun 1971, dengan konsep "Bertolak dari Yang Ada.
Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri, beberapa diantaranya yaitu mementaskan naskah Gerr (Geez), dan Aum (Roar) di Madison, Connecticut dan di LaMaMa, New York City, dan pada tahun 1991 membawa Teater Mandiri dengan pertunjukkan Yel keliling Amerika. . Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.
Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali. Sejumlah karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, Rusia, Perancis, Jepang, Arab dan Thai.
Pendidikan
- SR, Tabanan (1956)
- SMP Negeri, Tabanan (1959)
- SMA-A, Singaraja (1962)
- Fakultas Hukum UGM (1969)
- ASRI dan Asdrafi, Yogyakarta
- LPPM, Jakarta (1981)
- International Writing Programme, Iowa, AS (1974)
Karya dan karier
Teater
- Pimpinan Teater Mandiri, Jakarta (1971-sekarang)
Penulis skenario film
Antara lain :- Perawan Desa (memperoleh Piala Citra FFI 1980)
- Kembang Kertas (memperoleh Piala Citra FFI 1985)
- Ramadhan dan Ramona
- Dokter Karmila
- Bayang-Bayang Kelabu
- Anak-Anak Bangsa
- Wolter Monginsidi
- Sepasang Merpati
- Telegram
Penulis skenario sinetron
Antara lain :- Keluarga Rahmat
- Pas
- None
- Warung Tegal
- Dukun Palsu (komedi terbaik pada FSI 1995)
- Jari-Jari Cinta
- Balada Dangdut
- Dendam
- Cerpen Metropolitan
- Plot
- Klop
- Melangkah di Atas Awan (penyutradaraan)
- Nostalgia
- Api Cinta Antonio Blanco
- Tiada Kata Berpisah
- Intrik
- Pantang Menyerah
- Sejuta Makna dalam Kata
- Nona-Noni
Karya drama
- Dalam Cahaya Bulan (1966)
- Lautan Bernyanyi (1967)
- Bila Malam Bertambah Malam (1970)
- Invalid (1974)
- Tak Sampai Tiga Bulan (1974)
- Anu (1974)
- Aduh (1975)
- Dag-Dig-Dug (1976)
- Gerr (1986)
- Edan
- Hum-Pim-Pah
- Dor
- Blong
- Ayo
- Awas
- Los
- Aum
- Zat
- Tai
- Front
- Aib
- Wah
- Hah
- Jepret
- Aeng
- Aut
- Dar-Dir-Dor
Karya novel
- Bila Malam Bertambah Malam (1971)
- Telegram (1972)
- Stasiun (1977)
- Pabrik (1976)
- Keok (1978)
- Aduh
- Bali
- Dag-dig-dug
- Edan
- Gres
- Lho (1982)
- Merdeka
- Nyali
- Byar Pet (Pustaka Firdaus, 1995)
- Kroco (Pustaka Firdaus, 1995)
- Dar Der Dor (Grasindo, 1996)
- Aus (Grasindo, 1996)
- Sobat (1981)
- Tiba-Tiba Malam (1977)
- Pol (1987)
- Putri
- Terror (1991)
- Merdeka (1994)
- Perang (1992)
- Lima (1992)
- Nol (1992)
- Dang Dut (1992)
- Cas-Cis-Cus (1995)
Karya cerpen
- Karyanya yang berupa cerpen terkumpul dalam kumpulan cerpen Bom (1978)
- Es (1980)
- Gres (1982)
- Klop
- Bor
- Protes (1994)
- Darah (1995)
- Yel (1995)
- Blok (1994)
- Zig Zag (1996)
- Tidak (1999)
- MS (1977)
- Tak Cukup Sedih (1977)
- Ratu (1977)
- Sah (1977)
Karya esai
Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.Penghargaan yang telah diterima
- Pemenang penulisan lakon Depsos (Yogyakarta)
- Pemenang penulisan puisi Suluh Indonesia Bali
- Pemenang penulisan novel IKAPI
- Pemenang penulisan drama BPTNI
- Pemenang penulisan drama Safari
- Pemenang penulisan cerita film Deppen (1977)
- Tiga buah Piala Citra untuk penulisan skenario (1980, 1985, 1992)
- Tiga kali pemenang sayembara penulisan novel DKJ
- Empat kali pemenang sayembara penulisan lakon DKJ
- Pemenang penulisan esei DKJ
- Dua kali pemenang penulisan novel Femina
- Dua kali pemenang penulisan cerpen Femina
- Pemenang penulisan cerpen Kartini
- Hadiah buku terbaik Depdikbud (Yel)
- Pemenang sinetron komedi FSI (1995)
- SEA Write Award 1980 di Bangkok
- Pemenang penulisan esei Kompas
- Anugerah Seni dari Menteri P&K, Dr Fuad Hasan (1991)
- Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang (1991-1992)
- Anugerah Seni dari Gubernur Bali (1993)
- Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan Presiden RI (2004)
- Penghargaan Achmad Bakrie (2007)
- Penghargaan Akademi Jakarta(2009)
Kegiatan lainnya
- Wartawan majalah Ekspres (1969)
- Dosen teater Institut Kesenian Jakarta (1977-1980)
- Wartawan majalah Tempo (1971-1979)
- Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985)
- Dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS (1985-1988)
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Putu_Wijaya
Posted on 20.32
Sabtu, 21 April 2012
Profil Obeng
Adalah suatu organisasi di Universitas Muria Kudus yang memperdayakan mahasiswa melalui kajian keilmuan dan minat bakat ( Teater , Keilmuan , Olah Raga , Musik , dll ) yang mayoritas anggotanya dari mahasiswa Fakultas Teknik , yang diketuai oleh Oki Harsandi (FT Teknik Mesin UMK).
Workshop Obeng pertama diadakan pada tanggal 6-8 Februari 2012 di Villa PPRK Muria Kudus , Berdiri secara independen dan diresmikan pada tanggal 04 April 2012 bersamaan dengan Pentas Perdana Obeng berjudul "Sang Mandor" karya Rahman Arge yang disutradarai oleh Dito Morra ("Keset (Keluarga Segitiga Teater) Kudus") ,di Auditorium UMK sekaligus sebagai ikrar perdana Obeng.
Facebook : http://www.facebook.com/KomunitasObengFtUmk
Workshop Obeng pertama diadakan pada tanggal 6-8 Februari 2012 di Villa PPRK Muria Kudus , Berdiri secara independen dan diresmikan pada tanggal 04 April 2012 bersamaan dengan Pentas Perdana Obeng berjudul "Sang Mandor" karya Rahman Arge yang disutradarai oleh Dito Morra ("Keset (Keluarga Segitiga Teater) Kudus") ,di Auditorium UMK sekaligus sebagai ikrar perdana Obeng.
Facebook : http://www.facebook.com/KomunitasObengFtUmk
Posted on 10.17
Kamis, 19 April 2012
Profil "Keset (Keluarga Segitiga Teater) Kudus"
PROFIL KESET
Adalah sebuah kelompok yang mulanya hanya berawal dari obrolan beberapa orang yang mempunyai kegelisahan yang hampir dikatakan sama terhadap keinginan untuk terus melakukan dan melestarikan proses berpikir, berpendapat, bermusyawarah dan bertindak. Dan adalah kesenian atau lebih tepatnya teater yang menjadi sebuah media mengaktualisasi kegelisahan – kegelisahan mereka. Dari tiga titik kegelisahan tiga orang, yaitu M. Zein ( Jesi ), Noorhadi ( Cipo ), Ahmad Zaki ( Paijan ), yang berasal dari tiga komunitas yang berbeda itulah akhirnya nama Segitiga di ambil yang bertepatan pada tanggal 3 Maret 2009. Dan karena ruang apresiasi yang mereka gunakan adalah kesenian terutama teater, maka sepakat nama Keluarga Segitiga Teater menjadi sebuah bendera berkesenian mereka. Kenapa kata “ keluarga ” menjadi pilihan, karena mereka meyakini bahwa kata “ keluarga “ lebih terkesan mengayomi dan dengan harapan terciptanya sebuah kondisi yang selalu saling menjaga, melengkapi, membantu, dll. Dan untuk mengawali langkah awal sebagai sebuah kelompok kesenian teater, maka proses karya adalah pilihan yang harus segera dilakukan. Dengan mengedepankan musyawarah anggota, proses – proses itu mulai dilakukan meski tak jarang batu sandungan menghalang di depan. Berbekal pengetahuan Zaki “ Paijan “ yang notabene pernah belajar teater di Teater Beta IAIN Walisongo dan Teater Lingkar Seamarang, Jesi yang pernah belajar teater di Teater Gema IKIP PGRI Semarang, dan NH Cipo yang pernah belajar teater di Teater Poentoen Kudus dan Teater Sungsang UMK Kudus, naskah “ SUGEH MBLEGEDU “ karya Prie GS menjadi karya pertama KESET dengan sutradara Zaki “ Paijan “. Setelah itu, sempat juga terlibat penggarapan ketoprak di Desa Wonosoco. Lalu “ DALANG DAN WAYANG “ karya Koko Sundari dengan sutradara yang masih sama, yaitu Ahmad Zaki menjadi karya kedua yang di pentaskan di 2 ( dua ) kota, yaitu Kudus dan Jepara. Menggenapi tahun pertama KESET berdiri, karya ketiga pun tergarap dengan judul “ RENTENIR “ karya Giwing Purba sutradara Wisnu yang dipentaskan secara gratis di Kampus UMK. Setelah itu, mengawali tahun kedua, KESET pentas keliling 5 ( lima ) desa menjadi pilihan dengan mementaskan naskah “ WEK – WEK “ karya Anton Chekov sutradara Ahmad Zaki. Desa Rahtawu, Desa Wonosoco, Desa Lau, Desa Terban, Desa Terban, Nalumsari Jepara menjadi pilihan pentas keliling desa tersebut. Setelah melakukan pentas keliling desa tersebut, sebuah saran supaya KESET mendaftarkan diri menjadi kelompok kesenian dibawah naungan Dinas Pariwisata. Dan melalui proses yang sedemikian rupa, akhirnya KESET mendapatkan pengakuan dari Dinas terkait ( Dinas Pariwisata ) dan berlokasi di Desa Rendeng RT 04 RW 06 Kudus. Mengawali tahun 2011 KESET mencoba berkolaburasi dengan beberapa teman – teman yang berkecimpung di dunia teater di kudus dengan menggarap naskah “ LENG “ karya Bambang Widoyo Sp dengan sutradara Ki Waryoto Giok yang notabene adalah aktivis dari Teater Putu yang dipentaskan di Auditorium UMK Kudus. Lalu KESET mencoba melakukan sebuah terobosan dengan menggarap naskah “ TUAN KONDEKTUR “ karya Anton Chekov sutradara Jesi yang di paketkan dengan workshop keliling sekolah yang diberi tajuk Keset Go To School ( KGTS ). Adalah SMAN 1 Gebog, SMPN 1 Kudus, SMAN 1 Bae, MA Darul Hikam yang menjadi pilihan program ini dan di akhiri dengan pementasan di Balai Desa Rendeng. Dan di akhir tahun 2011 KESET mencoba berproses lagi demi menjaga intensitas berkarya dan juga demi menjaga kesinambungan intern personal dan antar kelompok teater di Kudus. Naskah “ MENGASAH PISAU CUKUR “ karya Hanindawan dengan sutradara M. Zein Zb, yang telah dipentaskan pada tgl 28 Desember 2011 di Auditorium UMK dan rencananya akan dipentaskan keliling beberapa kota di tahun 2012 ini. Dan untuk mewujudkan cita – cita kami yang kesekian kali, kami dari KESET ( Keluarga Segitiga Teater ) bermaksud ingin bekerjasama dengan beberapa pihak untuk mendukung rencana pentas keliling kami.
- Pentas Produksi
- Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
- (1) Sugeh Mblegedhu karya Prie GS, Sutradara : Zaki Paijan (2) Dalang & Wayang karya Koko Sondari dan Cucu S, Sutradara : Zaki Paijan (3) Rentenir karya Giwing Purba, Sutradara : Wisnu DD (4) Wek-Wek karya Anton Chekov Sutradara : Zaki Paijan (5) Leng karya Bambang Widoyo SP, Sutradara : Waryoto Giok (6) Tuan Kondektur karya Anton Chekov Sutradara : Jesy ZB (7) Mengasah Pisau Cukur karya Hanindawan Sutradara : Jesy ZB
- sumber : http://teaterkeset.blogspot.com/
Posted on 10.42
Langganan:
Postingan (Atom)

